Keahlian Al-maturidi dalam bidang teologi islam menjadikan masyarakat memberikan gelar kepadanya dengan sebutan ‘’Imam al-Huda’’Ada juga yang memberi gelar ‘’Imam al-mutakallim’’ Mahmud al-kuwafi menyebut al-maturidi sebagai ‘pemimpinnya pembing-bing cerminan kaum sunni dan pembing-bingnya pembawa standar Ahlu sunnah waljama’ah,pembongkar kesesatan yang lahir dari kekacauana dan Bid’ah,pemimpin skolastik dan ahli perbaikaan keimanan ummat islam.’’ Berikut ini,penulis akan memaparkan beberapa pokok pemikiran kalam al-maturidi:
1.Akal dan wahyu
Dalam pemikiran teologi,al-maturidi berdasarkan pada wahyu dan akal.Dalam hal ini,sama dengan al-Asy’ari.namun porsi yang diberikan oleh al-maturidi kepada akal lebih besar dari pada yang diberikan olrh al-Asy’ari.
Menurut al-maturidi,mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal.kemampuan akal dalam mengetahui hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat alqur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memproses pengetahuan dan keimananntya terhadap allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya.kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut,tentunya Allah tidak memerintah manusia Melakukannya. Dan orang tidak mau menggunakan akal untuk memproleh iman dan pengetahuan mengenai allah berarti meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan ayat-ayat tersebut.namun akal menurut pandangan al-maturidi,tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya[3] Al-maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam,yaitu:
Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu
Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu
Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu,kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
2.Perbuatan manusia
Al-maturidi menyebut adanya dua perbuatan,perbuatan tuhan dan perbuatan manusia.perbuatan tuhan mengambil bentuk penciptaan daya itu sendiri merupakan perbuatan manusia.daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan.perbuatan manusia adalah perbuatan manusia dalam arti sebenarnya.pemberian upah dan hukuman sesungguhnya didasarkan pada pemakaian daya yang diciptakan.
Kehendak manusia dalam paham al-maturidi bukanlah kehendak bebas yang dikenal dalam mu’tazilah.kebebasan kehendak disini bukanlah kebebasan untuk berbuat yang tidak dikehendaki tuhan,tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang tidak disukai tuhan.
3.Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Perbuatan manusia dan segala sesuatu dalam wujud ini,yang baik atau yang buruk adalah ciptaan tuhan.akan tetapi pernyataan ini menurut al-maturidi bukan berarti bahwa tuhan berbuat dan berkehendak dengan sewenang-wenang sekehendaknya semata.Hal tersebut terjadi karena qudrat tidak sewenang-wenang (absolut),tetapi perbuatan kehendak-nya ini berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan-nya yang sudah ditetapkannya sendiri.
4.Sifat tuhan
Menurut al maturidi bahwa pembicaraan tentang sifat harus didasarkan atas pengakuan bahwa tuhan mempunyai sifat-sifatnya sejak zaman ‘azali, tanpa pemisahan antara sifat-sifatzat dan sifat-sifat aktif.[4]Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawanya pada pengrtian anthropomorphisme karena sifat tidak berwujud tersendiri dari zat,sehingga berbilangnya yang qadim(ta;addud al-qudama’)
5.Melihat Tuhan
Al-maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan.hal ini diberitahukan oleh ALqur’an ,antara lain firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 22dan 23 Al-maturidi lebih lanjut mengatakan bahwa tuhan kelak diakhirat dapat dilihat dengan mata,karena tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial.namun melihat tuhan,kelak diakhirat,tidak dalam bentuknya(bila kaifa),karena keadaan diakhirat tidak sama dengan keadaan didunia.
6.Kalam tuhan
Pemecahan yang dilakukan oleh al-maturidi terhadap kalamullah adalah dengan cara memandang perkataan Tuhan dan membaginya kepada dua segi,yakni:
- ’’kalam nafsi’’ yang ada pada zat tuhan dan qadim,bukan sejenis perkataan manusia,berhuruf dan bersuara.kalam nafsi tersebut menjadi sifat tuhan Tuhan sejak zaman ‘azali.kita sebagai manusia tidak bisa mengetahui hakekatnya,tidak bisa didengar atau dibaca kecuali dengan perantara.
- Kalam yang terdiri dari huruf dan suara.kalam ini sudah terang,baru,dan diadakan.[5]
7.Perbuatan manusia
Menurut al-maturidi,tidak ada sesuatu yang terdapat di alam ini,kecuali semua atas kehendak tuhan,kecuali semuanya atas kehendak tuhan dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak tuhan,keuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan kehendak-nya sendiri.oleh karena itu ,tuhan tidak wajib berbuat ash-shalah wa al-ashlah(yang baik dan terbaik bagi manusia) Setiap perbuatan Tuhan yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-nya kewajiban-kewajiban tersebut antara lain;
- Tuhan tidak akan membebankan kewajiban-kewajiban kepada manusia diluar kemampuannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan.manusia juga diberi kemerdekaan oleh tuhan dalam perbuatan dan kemampuannya.
- Hukuman atau ancaman,serta janji,terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah ditetapkan-nya.
8.Pengutusan rasul
Akal tidak selamanya mampu mengetahui kewajiban yang dibebankan,seperti kewajiban mengetahui baik dan buruk serta kewajiban lainnya dari syari’at yang dibebankan kepada manusia.oleh karena itu,menurut al-maturidi,akal memerlukan bimbingan ajaran wahyu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut,jadi,pengutusan rasul berpungsi sebagai suatu informasi.tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan rasul beratti manusia telah membebankan sesuatu yang berada diluar kemampuannya kepada akalnya. Pengutusan rasul menurut al-maturidi adalah sebuah kewajiban.sebab akal manusia tidak bisa mengetahui kewajiban-kewajibannya tanpa petunjuk wahyu.
9.Pelaku Dosa Besar
Al-maturidi berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak kafir dan tidak kekal dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertaubat.
Hal ini karena tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya.kekal didalam neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa syirik.Dengan demikian berbuat dosa besar selain dosa syirik tidak akan menyebabkan pelakunya kekal didalam neraka.menurut al-maturidi,iman cukup dengan tashdiq dan ikrar,sedangkan amal adalah penyempurnaan iman,oleh karena itu amal tidak akan menambah atau mengurangi esensi iman,kecuali hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja[6].
Pemikiran Al maturidi memang sangat membantu umat Islam dalam bertauhid.