C. Pemikiran Seyyed Hossein Nasr : Tradisi Islam di Tengah Modernitas
Istilah tradisi berasal dari kata tradition yang berarti ada kebiasaan yang berlaku. Terkait dengan tradisi Islam, Patrick Hughes[6] dan Noach Webster[7] memberi defenisi tradisi sebagai kepercayaan terhadap seluruh ajaran nabi Muhammad yang tidak tertulis dalam Alquran baik berupa moral maupun doktrin-doktrin. Sedangkan Poerdawrminto mengartikan tradisi sebagai sesuatu yang sifatnya turun temurun seperti adat, upacara maupun ajaran-ajaran.
Terlepas dari beberapa defenisi di atas, Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya “Traditional Islam in the Modern World” memaparkan dengan tegas bahwa yang ia maksud adalah tradisi yang menyiratkan sesuatu yang sakral seperti yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu maupun pengungkapan dan pengembangan prean sakral itu di dalam sejarah kemanusiaan tertentu untuk dimaksudkan dalam satu cara yang mengimplikasikan baik kesinambungan yang horizontal dengan sumber asli maupun vertikal yang menghubungkan setiap denyut kehidupan tradisi yang sedang diperbincangkan dengan realitas transenden meta-historis.[8]
Lebih lanjut, Seyyed Hossein Nasr merinci tradisi dengan tiga ciri yaitu: tradisi yang bersifat suci karena diturunkan tuhan pada berbagaia gama lewat pewahyuan dalam konteks zaman dan tempat yang berbeda. Tradisi senantiasa tidak berubah karena mengandung kontinuitas, mengandung sain mengenai realitas mutlak dan cara mengaktualisir dan merealisasi pengetahuan pada masa tempat dan masa yang berbeda.[9] Jelasnya tradisi merupakan seruan dari pusat eksistensi, mengandung kebenaran metafisis dan selalu memancarkan yang bersumber dari realitas transenden.
Di samping itu, menurut Seyyed Hossein Nasr , bahwa tradisi mencakup tiga hal yaitu: ad-din sebagai agama yang meliputi semua aspek dan segala cabangnya, as-sunnah sebagai sesuatu yang sakral dan telah dan sudah menjadi keiasaan turun-temurun di kalangan masyarakat tradisional. Yang terakhir adalah as-silsilah sebagai mata rantai yang mengaitkan masing-masing priode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran dalam dunia tradisional kepada sumber segala sesuatu.[10]
Tradisi ibarat pohon yang akarnya terbenam dalam hakekat ilahi dan dari pohon itulah tumbuh batang dan rantingnya yang tumbuh sepanjang masa. Tradisi ini menyiratkan kebenaran yang kudus, yang abadi serta penerapan prinsip-prinsip yang berkesinambungan terhadap berbagai situasi ruang dan waktu.[11]
Tradisi yang ditawarkan oleh Seyyed Hossein Nasr ini merupakan versus paham modern yang melepaskan diri dari ilahi dan dari prinsip-prinsip abadi yang dalam realitasnya mengatur segala sesuatu. Inilah yang menjadi titik landasan dan dasar pemikiran yang ia bangun.
Modernisasi oleh Seyyed Hossein Nasr dikatakan bahwa selain membawa dampak postif juga membawa dampak negatif. Dampak ini bersumber dari penolakan terhadap hakekat ruh dan penyingkiran maknawiyah secara gradual dalam kehidupan manusia. Modernitas mencoba hidup dengan roti semata, berupaya membunuh tuhan dan menyatakan kebebasan dari kehidupan akhirat.[12]
Masyarakat Barat yang dikenal sebagai “the post industrial society” adalah suatu masyarakat yang mencapai tingkat kemakmuran materi dari seperangkat teknologi yang serba mekanis dan otomatis. Kemewahan ini bukan semakin mendekati kebahagiaan, malah semakin dihinggapi oleh rasa cemas. Masyarakat modern telah berubah menjadi penyembah pengetahuan dan teknologi sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaannya tereduksi dan terperangkap dalam pada jaringan sistem rasionalitas teknologi yang sangat tidak human. Bahkan mereka lupa tentang siapa mereka, untuk hidup dan kemana sesudahnya.
Demikian kritik Seyyed Hossein Nasr terhadap modernitas seperti yang disaksikannya pada masyarakat modern di Barat. Mereka kehilangan visi keilahian dan hilang kemampuan untuk melihat realitas hidup dan kehidupan secara intlectus.[13]
Ungkapan yang senada juga dikatakan Marcel, hilangnya batas-batas yang dianggap dan diyakini sebagai sesuatu yang sakral dan absolut menimbulkan manusia modern yang melingkar-lingkar dalam dunia yang serba relatif terutama sistem nilai dan moralitas yang dibangun. Barat telah kehilangan rasa super natural secara besar-besaran.[14] Dalam perspektif inilah Seyyed Hossein Nasr menawarkan pendekatan tradisionalnya dengan sufisme sebagai alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan spritual manusia modern.
Menurut Seyyed Hossein Nasr , manusia untuk dapat mencapai level eksistensi harus mengadakan pendekatan spritual dan melatih ketajaman intelektus[15] karena menurutnya pengetahuan pragmatis tidak dapat dipakai untuk melihat realitas yang utuh kecuali jika ia mempunyai visi intelektus tentang yang utuh tadi. Di samping itu, manusia juga mampu mengatahui dirinya sendiri secara utuh jika ia mendapat bantuan ilmu dari tuhan karena keberadaan yang sifatnya relatif akan berarti bila dihubungkan dengan yang absolut yakni tuhan. Oleh karena itu menurut Seyyed Hossein Nasr bahwa jika mereka mengakhiri kesesatan yang mereka timbulkan sendiri akibat terlalu mengagungkan rasio, mereka harus merubah sikap dan kehidupan keagamaan.[16]
Krisis masyarakat modern yang di Barat juga memberi pengaruh yang cukup besar dalam dunia Islam[17] yang pada saat itu mengalami krisis. Negara-negara muslim internasional mencoba mengambil bentuk modernisasi dan industrialisasi secara mentah-mentah yang mengakibatkan dunia Islam juga mengalami krisis seperti yang dialami oleh masyarakat Barat.[18]
Konsep modernisme yang ditawarkan oleh pemikir-pemikira Islam oleh Seyyed Hossein Nasr dipandang sangat bertentangan dengan Islam tradisional. Menurutnya, ummat Islam harus mengkaji kembali tradisi-tradisi otentik Islam untuk mengobati krisi yang muncul tanpa harus mengambil konsep Barat. Karena menurutnya konsep-konsep tersebut bertentangan dengan Islam. Humanisme, rasionalisme dan sekularisme dan modernisme merupakan lawan bagi Islam tradisional.
Alternatif yang ditawarkan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam upaya pembebasan manusia modern lewat filsafat tradisional adalah sufisme. Menurutnya bahwa ajaran agama terbagi kepada dua kategori. Pertama yang berhubugnan dengan aspek kesyari’ahan atau eksoteris dan yang kedua adalah aspek sufisme atau esoteris. Sufisme tidak akan bisa dipraktekkan tanpa telebih dahulu mempraktekkan ajaran syari’ah dengan benar.[19] Artinya bahwa antara syari’ah dengan sufisme terdapat hubungan yang sangat erat. Kesatuan antara keduanya.
Bagi Seyyed Hossein Nasr bahwa sufisme bagaikan jiawa yang menghidupkan tubuh dan merupakan jantung dari pewahyuan ilahi. Sufisme mampu meniupkan semangatnya ke dalam seluruh struktur Islam baik dalam manifestasi sosial maupun intelektual, bahkan sufisme sebagai institusi yang terorganisasi dalam matriks yang lebih besar mampu memainkan peran dalam struktur masyarakat.[20]
Dari uraian di atas kelihatannya pendekatan filsafat tradisional yang ditawarkan Seyyed Hossein Nasr pada intinya menuntun manusia masa kini keluar dari kungkungan ketidakpedulian tempat dunia modern untuk menemukan dirinya.