Aneka Ragam Makalah

Masalah Pembelajaran Bahasa Arab



Jika bermanfaat, Mohon di Share ya !. kalau sempat sumbang tulisannya ya !
Makalah Problematika Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Non Arab Ditinjau Dari Aspek Linguistik
Oleh: Partomuan Harahap

PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa[2] Arab di Indonesia bermula bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia yang pada waktu itu kepentingan mempelajari bahasa Arab terfokus pada pemahaman ilmu-ilmu agama yang pada umumnya bersumber dari buku-buku yang berbahasa Arab (kitab kuning). Karena itu tujuan utama dalam mempelajari bahasa Arab pada waktu itu adalah untuk memehami kita-kitab tersebut. Hal tersebut sangat berpengaruh pada sistem pengajaran bahasa Arab itu sendiri. Aspek yang dominan adalah agar memehami buku-buku tersebut dengan menggunakan pengajaran nahwu sebagai patokan untuk pemahaman bahasa Arab klasik. Hal tersebut menjadikan adanya kesenjangan dalam penguasaan aspek kemampuan berbahasa. Dimana kemampuan yang bersifat positif seperti membaca dan mendengar lebih diutamakan, sedangkan kemampuan berbicara dan menulis agak terabaikan.

Hal tersebut tidak seiring dengan perkembangan pada zaman modern sekarang. Interaksi kita dengan dunia luar pada umumnya makin besar, terutama dengan dunia Arab dengan berbagai alasan yang bersifat ekonomis, keagamaan maupun sosial. Hal ini tentunya membutuhkan tingkat komunikasi yang tinggi dan menuntut setiap orang yang hendak berinteraksi dengan kawasan Timur Tengah untuk memiliki tingkat kemampuan berbahasa tinggi yang mencakup kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis agar tidak terjadi misunderstanding antara sipembicara dan sipenerima pesan.

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Internasional pada saat ini. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap perkembangan pengajaran bahasa Arab di seluruh penjuru dunia dan khususnya di Indonesia. Dengan fungsinya sebagai bahasa Internasional bahasa Arab menjadi salah satu bahasa resmi di berbagai lembaga Internasional, seperti PBB, UNESCO, UNICEF dan lain-lain. Ini disebabkan berbagai faktor, diantaranya luasnya wilayah yang menggunakan bahasa tersebut. Hal tersebut menandaskan bahwa bahasa Arab tidak saja dipelajari hanya sebagai bahasa agama saja seperti anggapan banyak orang selama ini. Namun bahasa ini sudah menjadi bahasa yang dipelajari untuk berkomunikasi secara umum dengan penutur asli bahasa Arab yang mempunyai latar belakang yang bersifat religius, perdagangan, budaya, sosial dan lain-lain. Namun pembelajaran bahasa Arab yang diberikan di Indonesia khususnya oleh banyak pakar belum sepenuhnya mencapai hal maksimal atau paling tidak sesuai dengan tuntutan yang ada dalam kurikulum. Hal tersebut tentu disebabkan berbagai faktor yang menyangkut bahasa, apakah kurangnya pemahaman akan fungsi bahasa[3], apakah tidak memahami tentang tujuan pembelajaran bahasa Arab[4], apakah bahasa Arab sebagai bahasa tujuan atau bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu, faktor sosial budaya, faktor kurikulum. Semua permasalahan tersebut seharusnya mendapat perhatian penting dikalangan para pakar dan pemerhati bahasa Arab untuk mencari solusi tepat agar berbagai anggapan miring atau negatif terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa Arab dapat diminimalisir.



PEMBAHASAN

A.  Problematika dalam pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab 

Yang dimaksud dengan problematika dalam pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab khususnya di Indonesia adalah permasalahan yang menjadi titik sulit dalam pembelajaran dari berbagai aspek kebahasaan, seperti aspek fonologi (‘ilm al-Ashwat), morfologi (‘ilm al-Sharf), sintaksis (‘ilm al-Nahwi), dan semantik (‘ilm al-Ma’ani). Hal ini terjadi karena perbedaan bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu. Mau tidak mau, rela atau tidak, kita harus akui bahwa setiap bahasa mempunyai sistim yang berbeda dari satu bahasa kebahasa yang lain. Berbagai sistim yang tidak ada dalam bahasa induk, bagai yang mempelajari bahasa kedua akan menjadi problem untuk mempelajari bahasa tersebut. Karena itu kesalahan berbahasa untuk orang yang mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kedua bersumber pada perbedaan sistim bahasa Arab dengan bahasa Ibunya. Disamping aspek linguistik di atas, masih ada aspek non linguistik seperti, aspek lingkungan sosial, pembelajar, pengajar dan aspek materi.

1. Aspek Fonetik

Aspek fonetik adalah ilmu yang mempelajari cata pengucapan, penyampaian dan penghasilan bahasa sebagai sebuah karakter umum yang terdapat dalam semua bahasa.[7] Oleh al-Badrawi Zahran, mengemukakan bahwa fonetik adalah ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan suatu bahasa yaitu bunyi yang dihasilkan oleh manusia (human vocal noise) dan memperhatikan secara mendasar tentang alat dan cara pengucapan yang berlaku dalam suatu bahasa.[8] Fonetik sebagai salah satu bidang ilmu yang membahas bunyi tertentu, dimana bunyi tersebut diselidiki dalam bentuk pelafalannya dan menurut sifat-sifat akuistiknya. Sedangkan ilmu fonologi meneliti bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya. Maka fonetik tidak mempersoalkan segi fungsional dalam perbedaan bunyi-bunyi bahasa yang diselidikinya. Sementara fonologi persoalan fungsional bunyi-bunyi bahasa merupakan penyelidikan utama.

Sebagai contoh perbedaan bahasa Arab dengan bahasa Ibu dapat dilihat dari fonem[9] “ أ “ hamzah ( a ) bahasa Indonesia dengan “ ع “ ‘ain ( ‘a ) dalam bahasa Arab, kedua fonem tersebut membedakan makna, seperti pada kata “ امل ” dengan kata “ عمل ”. Dimana orang Arab tidak pernah mengacaukan dua bunyi itu. Krena masing-masing memounyai makna tersendiri. Sementara dalam bahasa Indonesia tidak begitu fungsional, karena tidak ada pasangat kata yang mengandung kedua bunyi dapat dipertentangkan. Dalam bahasa Arab perbedaan tersebut merupakan perbedaan fonem, sementara dalam bahasa Indonesia adalah perbedaan fonetis saja yang tidak merubah makna. Karena secara konprehensif dapat dilihat bahwa dalam bahasa Arab terdapat huruf-huruf mirip dan mempunyai kemiripan bunyi, seperti ت dengan ط, antara د dengan ض, antara ق dengan ك, dan lain-lain.[10] Selain bunyi tersebut, masih ada perbedaan lain, seperti harkat, panjang-pendek, adanya kata yang dibaca tapi tidak tertulis “ هذا, ذلك ”, dan ada kata tertulis tapi tidak dibaca,seperti “ ال الشمسية “.

Dalam bahasa Indonesia terdapat juga huruf yang tidak ada dalam bahasa Arab, seperti C, G, P, V, dan berbagai fonem, seperti CH, NG, NY. Perbedaan-perbedaan tersebut, ternyata menimbulkan kesulitan bagi pelajar untuk mempelajari bahasa Arab. Maka dalam hal ini seorang pengajar harus dapat mengimbangi kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa bahasa Arab sulit dipelajari.

2. Aspek Morfologi

Ilmu ini merupakan bagian dari sintaksis yang mempelajari morfem. Dimana morfem itu mungkin kata, sebagian dari kata, awalan, sisipan atau akhiran serta mungkin perubahan shighat (bentuk kata), seperti perubahan dari aktif kepasif, bahkan kadang-kadang morfem itu terdiri dari satu fonem atau lebih, pseperti kata قال adalah morfem, tetapi huruf mudhoro’ah juga morfem, atau pada kata ضربوا yang mana و pada kata tersebut morfem karena menunjukkan jama’, tetapi ia juga fonem yang mempunyai nilai bunyi u (panjang).

Untuk dapat diketahui bahwa studi yang berhubungan dengan kata atau bagian kata yang menjurus untuk membantu kalimat dan menjurus kepada perbedaan sintaksis, dinamakan morfologis, contoh: 1) pembagian kata ism, fi’il, dan lain-lain; 2) pembagian dari segi bilangan, mufrad, mutsanna, dan jama’ ; 3) dari segi jenis mudzakkar dan muannats; 4) mengenai person, mutakallim, mukhatab dan ghaib. Tetapi pembahasan shighat fi’il dan jam’ taktsir bukanlah morfologis, karena tidak mempengaruhi kalimat, tetapi merupakan pembahasan leksikologi, seperti pada kata عاقل menjadi عقلاء atau شيوخ menjadi أشياخ, tidak ada perbedaan sintaksis walaupun berbeda shighat.

Dalam bahasa Arab ilmu ini disepadankan dengan علم الصـرف yang mencakup tashrif dan isytiqaq, dimana tashrif ini ada pada isytiqaq, sementara istiqaq tidak bererti tasfrif, tetapi hasil isytiqaq dapat ditashrif. ‘Ilm al-sharf adalah ilmu yang membahas bentuk kata bahasa Arab baik dari segi konstruksi atau format “bina” suatu lafaz untuk mengetahui prinsip-prinsip huruf, perubahan, pembuangan/penghapusan, penukaran dan kesempurnaan.[11]Dalam ungkapan lain ilmu yang membahas tentang aturan-aturan untuk mengetahui bentuk kata atau keadaannya dalam bahasa Arab, bukan dari segi perubahan dan konstruksi akhir kata. Lebih jelasnya perbedaan morfologi dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia dapat dilihat, bahwa proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan penambahan kata, seperti kata “tulis”; akhiran (sufiks) dalam kalimat Ali menulis tulisan; imbuhan (prefiks), seperti “di” pada kalimata Tulisan ditulis; sisipan (infiks), seperti “le” pada kalimat Bumi menggeletar, serta pengulangan kata dalam kalimat Ali menulis-niliskan pensilnya.

Sementara dalam bahasa Arab perubahan dan pembentukan katanya dilakukan dangan pengubahan kata dasarnya kepada beberapa bentuk sesuai dengan ketentuan-ketantuan yang ada atau juga sering disebut dengan isytiqaq (derivation)[12], yaitu membentuk kata baru dari akar kata yang sama dan mempunyai saling keterkaitan makna. Dari penjelasan ini terlihat bahwa, pembentukan dan perubahan kata dalam bahasa Arab dengan bahasa Indonesia jauh berbeda, karena dalam bahasa Arab bukan saja dilakukan dengan proses prefiks, infiks, dan sufiks. Tetapi yang lebih signifikan adalah melahirkan kata baru melalui proses isytiqaq. Perubahan-perubahan tersebut (BA) sangatlah ketat, karena sedikit saja terjadi kesalahan akan berakibat kepada perubahan makna yang semestinya. Namun demikian prosesnya jelas dan sistematis, serta relatif mudah untuk diimplementasikan. Maka dalam hal ini seorang guru tidak mesti harus memberikan secara keseluruhan, tetapi dapat dilakukan dengan pembelajaran yang intensif seperti yang dilakukan di berbagai pesantren dan lembaga pembelajaran bahasa Arab pada masa klasik, sehingga tidak meninggalkan kesan perubahan tersebut membawa kepada kesulitan dan kebosanan mempelajari bahasa Arab. Karena dalam mempelajari bahasa Arab mutlak diperlukan mempelajari ilmu ini sebab ia dapat memelihara dari kesalahan dan kekeliruan dalam membentuk kata Arab, sehingga kita dapat mengetahui berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kata dengan artinya.

3. Aspek Sintaksis

Dalam bahasa Arab ilmu ini dikenal dengan “ilm al-Nahi/Qawa’id, dimana ilmu ia mempelajari bagaimana pemakaian kata dalam kalimat, pembentukan susuna kalimat dengan tepat dan benar. Untuk lebih jelas al-Jurjani, mengatakan bahwa ilmu nahwu[13] adalah ilmu yang mengandung sejumlah kaidah yang digunakan untuk mengetahui posisi kata bahasa Arab dalam kalimat, seperti i’rab, bina dan lain-lain, atau ilmu yang memiliki sejumlah ketentuan untuk mengetahui benar-tidaknya sebuah kalimat.[14] Oleh Harimurti Kridalaksana, sintaksis adalah pengeturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar dari itu dalam bahasa satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata.[15]

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahasa juga menjadi sebuah fenomena yang sangat sulit sekali dalam mempelajari bahasa Arab, karena terdapatnya perbedaan yang signifikan antara struktur kalimat (jumlah) dalam bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari penjelasan di bawah ini:

1. Segi ‘Irab, dimana ilmu ini membidangi tentang harakah akhir kata, seperti kata مقعد, dimana kata ini bisa di baca rofa’, kasrah, dan nashab, sesuai dengan posisinya dalam kalimat, contoh:
a. هذا مقعدٌ, dibaca rofa’ karena menjabat sebagai predikat (khobar)
b. جليتُ على المقعدِ , dibaca kasrah karena menjabat sebagai pelengkap/khabar setelah dimasuki huruf jar.
c. نظّفتُ مقعـدًا , dibaca manshub karena menjabat sebagai obyek (maf’ul bih).

Disamping itu pada bagian pertama harus ada persesuaian kata demi kata, dimana antara predikat (fi’il) dengan subyek (fa’il) harus sesuai. Demikian juga pada mudzakkar sama mudzakkar dan muannats sama muannats, serta berlaku pada bilangan, bila mubtada’nya mufrad maka khobarnya harus mufrad dan seterusnya.

Sistem í’rab lebih lincah dibandingkan bahasa Indonesia, seperti kalimat قرأ أحمد الكتاب , jika dibalik الكتاب فرأه أحمد , mendahulukan obyek dari subyek dibenarkan dalam bahasa Arab. Berbeda dalam bahasa Indonesia, seperti “Ahmad membaca buku” dan jika dibalik menjadi “Buku membaca Ahmad”. Hal ini mengandung penyimpangan makna yang jauh, karena bahasa Indonesia hanya mengenal S-P-O dan tidak O-P-S, walaupun bahasa Indonesia mengenal inversi, namun hanya sebatas membalikkan susunan bagian-bagian kalimat dan tidak menempatkan obyek pada posisi subyek, seperti dalam bahasa Arab أكل أحمد الطعام (Ahmad makan makanan), biasanya dalam bahasa Indonesia hanya berbentuk “makan makanan Ahmad” bukan “makanan makan Ahmad”.

2. Segi struktur kalimat, dimana dalam bahasa Arab dikenal dua bentuk jumlah, yaitu verbal (jumlah fi’liya) dan nominal (jumlah ismiyah). Sedangkan bahasa Indonesia hanya mengenal kalima nominal “kamu siswa yang cerdas” (أنت طالب ذكى), hal ini tidak menimbulkan kesulitan, tetapi bila didahului kata kerja, seperti (BA) ذهب زكى إلى المدرسـة , secara harfiyah diterjemahkan “persi si Zaki ke sekolah”. Hal ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia karena tidak mengenal sistem P-S-O, sementara hal tersebut dijumpai dalam bahasa Arab. Maka kalimat tersebut diterjemahkan sesuai dengan susunan kalimat yang benar dalam bahasa Indonesia, yaitu “Zaki pergi ke sekolah”.

3. Segi pola kalimat, dimana dalam bahasa Arab di kenal istilah MD, sedangkan dalam bahasa Indonesia hanya mengenal DM, Perbedaan tersebut akan terlihat ketika kita menterjemahkan kalimat bahasa Arab, seperti هذه السيارة جديدة , bila diterjemahkan dengan pola MD, maka “Ini mobil baru”. Sementara dalam bahasa Indonesia, hal tersebut tidak ditemukan. Sehingga harus diterjemahkan sesuai dengan susunan yang benar dalam bahasa Indonesia, yaitu “Mobil ini baru”.

4. Aspek Semantik

Pembahasan dan penelitian tentang semantik (makna) merupakan satu taran dalam linguistik. Namun perlu diketahui bahwa semantik dalam tataran pembahasan fonologi, morfologi dan sintaksis adalah tidak sama. Sebaba secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana yang dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morfem; satuan morfem dibangun oleh fonem, dan satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi. Dengan demikian obyek semantik yakni makna dan berada diseluruh atau semua tataran dengan bangunan-bangunan yang ada, yaitu berada dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Dalam bahasa Arab istilah ini dikenal dengan علم المعنى atau علم الدلالة . Semantik adalah bagian dari linguistik yang memepelajari teori makna.[16] Secara umum semantik mempelajari arti menurut aspek kata dan kalimat, tetapi dalam batas sosial tertentu. Sedangkan secara khusus, yaitu penggunaan yang hidup dalam milieu tertentu atau berdasarkan dengan memperhatikan ciri-ciri sosial budaya milieu tertentu. Kajian semantik terbagi dua, yaitu semantik dan emotif. Dimana makna semantik adalah makna obyektif yang tidak berbeda pengertiannya antara seseorang dengan lainnya, makna tersebut merupakan makna umum yang terbatas dari pengaruh pengalaman-pengalaman pribadi dan emosi. Makna tersebut sejalan dengan logika suatu bahasa tertentu. Sedangkan makna emotif adalah makna yang sudah terpengruhi oleh pengalaman-pengalaman emosional batin, yang dapat membedakan pengertian antara orang dengan yang lainnya.

Untuk lebih memudahkan dapat dicontohkan dengan kata بقرة (sapi), makna secara umum adalah binatang jinak yang mempunyai tanduk dan kuku serta halal dimakan. Namun kata tersebut mempunyai makna emotif yang cukup banyak, seperto orang Hindu, mengatakan bahwa sapi adalah simbol kesucian, dan bagai petani adalah sebagai sumber rezki karena bisa dimanfaatkan untuk menggarap sawah dan kebun, serta sebagai makhluk yang mengerikan bagi orang yang pernah ditanduk oleh sapi.

Dalam mempelajari semantik, perlu kiranya kita mengetahui tentang idiomatik bahasa Arab yang secara khusus belum dijumpai sampai sekarang. Karena tanpa ilmu ini orang akan bisa salah mengartikan kalimat dalam bahasa Arab, seperti kata قضـى sering hanya di artikan memutuskan atau menghukum. Padahal artinya bermacam-macam menurut konteksnya, seperti pada kalimat قضـى الاسـلام بـتنظيم المجتمع artinya menghendaki, karena kata قضـى disambut dengan huruf ب , pada contoh lain arti ini akan lain ketika di masuki huruf على , contoh قضى الاسـلام على المجتمع , maka diartikan menghancurkan. Dalam contoh lain adalah kata رغب ada dua arti yaitu suka dan benci. Namun untuk diartikan suka, maka kata tersebut harus disambut dengan huruf فى , contoh رغبتُ فى القراءة (saya suka membaca). Serta diartikan dengan benci kata tersebut harus disambut dengan huruf عن , contoh رغبتُ عنه (saya membencinya).

Pergeseran makna seperti yang disebutkan di atas, dapat menimbulkan kesulitan bagai pembelajar untuk menentukan makna suatu kata yang sebenarnya (antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia) ketika mereka ingin menerjemahkan kata tersebut, apalagi kata tersebut mengandung idiomatik dan kata yang diadopsi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Di samping itu juga masih ada aspek lain yang tidak berhubungan langsung dengan bahasa, tetapi sangat membantu dalam meluruskan arti yang dimaksud oleh sebuah kata, yaitu staylistik[17] dan leksikologi. Dimana staylistik membahas tentang gaya bahasa dan perbedaannya oleh karena perbedaan macam dan waktunya, cara-cara yang dipergunakan dalam perkembangannya dan aturan-aturannya.

Secara komprehensif dapat kita lihat ketika seseorang mengungkapkan “Ibu sedang memasak nasi”, tentu yang dimaksud bukanlah “nasi” yang dimasak, tetapi yang dimaksud adalah “beras”, karena kalau nasi yang dimasak akan jadi bubur. Dari contoh tersebut membuktikan bahwa pengtingnya untuk mengajarkan ilmu staylistik untuk mengetahui makna kata atau kalimat. Sehingga dengan demikian para pembelajar akan dapat menerjemah dan memahami sebuah kata, serta memahami maksud dari kata tersebut ketika berada ditengah-tengah kalimat.

Sedangkan leksikologi hanya mempelajari perbendaharaan bahasa. Karena diketahui bahwa bahasa Arab terkenal sebagai bahasa yang paling kaya dengan kosakata. Banyak kata-kata yang masing-masingnya mempunyai banyak pengertian, dan sebaliknya banyak kata-kata yang sama artinya. Maka untuk mengetahui ini sangat diperlukan sekali kamus untuk membantu memahami sebuah kata. Dan hal ini telah banyak kamus-kamus dengan dwi-bahasa atau yang diterjemahkan sesuai dengan negara yang menggunakan bahasa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
  • Ibnu Jiny, Al-Kashaish, Dar al-Kitab al-‘Araby, 1952, Jilid. I
  • Rochayah Machali, Pedoman Bagi Penerjemah, Jakarta: Grasindo, 2000
  • Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik; Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 1995
  • Depag. RI, Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam (IAIN), Jakarta: Proyek Lembaga Islam, 1975
  • Webster’s New Collegiate Dictonary, USA, 1981
  • A. Chaedar Alwasilah, Linguistik; Suatu Pengatar, Bandung: Angkasa, 1993
  • Kamal Muhammad Bisyr, Dirasat Fi ‘ilm al-Lughah, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1969
  • Muhammad al-Tunji dan Raji al-Asmar, Al-mu’jam al-mufashshal Fi ‘Ulum al-Lughah (al-Lisaniyah), Bairut: Dar al-Kutub Al-Islamiyah, 1993
  • Al-Badrawi Zahran, Fi ‘ilm al-Ashwat al-Lughawiyah wa ‘Uyub al-Nuthq, Bairut: Dar al-fikr, 1994
  • Tamam Hasan, Al-Lughah al-‘Arabiyah Ma’naha wa Mabnaha, t.t., t.tp., 1985 Ahrimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia, 2001
  • Ali Abdul Wahid Wafi, Figh Lughah, Kairo: Dar al-Nahdhah, t.th
  • Azizah Fawwal Babaty, Al-Mu’jam al-Mufashshal fi Al-Nahwi al-‘Araby, Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1992
  • Emil Badi’ Ya’qub, Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyah wa Khashaishuha, Bairut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, t.th
  • Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-ta’rifat, Bairut: Dar al-Kutub al-:ilmiyah, 1988
  • Ahmad Mukhtar Umar, ‘Ilm al-Dilalah, Kuwait: Maktabah dar al-Arabiyah, 1982


Footnote
  • [3] Fungsi bahasa tersebut adalah: Pertama, dilihat dari segi penutur, bahasa berfungsi sebagai personal, karena disaat seseorang menyampaikan pesan, disaat itu juga ia memperliahatkan emosinya kepada orang lain, disaat itu juga penerima pesan memahami bagaimana emosi sipenyampai pesan; Kedua, dilihat dari segi pendengar, bahasa berfungsi sebagai direktif, karena sipenyampai pesan secara otomatis berbuat sesuatu setelah pesan diterima; Ketiga, dilihat dari segi kontak bahasa, bahasa berfungsi fatik; Keempat, dilihat dari segi topik ujaran, bahasa berfungsi sebagai referensial, karena apapun yang disampaikan sipembicara akan menjadi pemikiran bagi sipenerima pesan; Kelima, dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi sebagai metalingual, dan Keenam, dilihat dari segi amanat, bahasa berfungsi imaginatif. Lihat Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik; Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 1995, 19-22

  • [4] Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Arab adalah: (1) agar siswa dapat memahami al-Quran dan Hadist sebagai sumber hukum Islam, (2) dapat memehamai dan mengerti buku-buku agama dan sejarah kebudayaan Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, (3) agar siswa pandai berbicara dan menulis dalam bahasa Arab, (4) untuk dijadikan sebagai alat pembantu keahlian lain (suplementery), (5) untuk membina ahli bahasa Arab, yakni benar-benar profesional. Lihat Depag. RI, Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi Agama Islam (IAIN), Jakarta: Proyek Lembaga Islam, 1975, h. 117-121

  • [5] Linguistik adalah studi ujaran manusia yang meliputi kesatuan-kesatuannya, hakikat (sifat), struktur, dan perubahan bahasa. Lihat Webster’s New Collegiate Dictonary, USA, 1981, h. 664. A. Chaedar Alwasilah, mengemukakan bahwa, linguistik adalah pengetahuan yang mempunyai obyek forma bahasa lisan dan tulisan yang mempunyai ciri-ciri pemerlain, syarat-syaratnya; sistematik, rasional, empiris, umum, sebagai pemerian dari kenyataan struktur, pembagian, bagian-bagian dan aturan bahasa. Lihat A. Chaedar Alwasilah, Linguistik; Suatu Pengatar, Bandung: Angkasa, 1993, h. 63

  • [6] Oleh Kamal Muhammad Bisyr, mengemukakan bahwa perbedaan bahasa Arab dengan bahasa Ibu dapat dilihat dari enam aspek kebahasaan, yaitu aspek fonetik dan fonologi, morfologi, sintaksis, leksikologi dan semantik. Lihat Kamal Muhammad Bisyr, Dirasat Fi ‘ilm al-Lughah, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1969, h. 9-14

  • [7] Muhammad al-Tunji dan Raji al-Asmar, Al-mu’jam al-mufashshal Fi ‘Ulum al-Lughah (al-Lisaniyah), Bairut: Dar al-Kutub Al-Islamiyah, 1993, h. 399

  • [8] Al-Badrawi Zahran, Fi ‘ilm al-Ashwat al-Lughawiyah wa ‘Uyub al-Nuthq, Bairut: Dar al-fikr, 1994, h. 11. Lihat juga Tamam Hasan, Al-Lughah al-‘Arabiyah Ma’naha wa Mabnaha, t.t., t.tp., 1985, 48

  • [9] Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Lihat Ahrimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia, 2001, 56

  • [10] Dalam bahasa Arab terdapat: (1) tiga buah vokal, yaitu Fathah, Kasrah, dan Dhommah, (2) 24 konsonan, (3) satu fonem ithbaq. Chatibul Umam, Studi Islamika, No. 3, Jakarta: UIN 1977, h. 6. Dan dalam bahasa Arab terdapat 15 makhraj yang dibagi kepada 3 besar, yaitu: (1-4) makhraj dalam tenggorokan, (5-13) makhraj lidah, (14-15) mkhraj bibir. Lihat Ali Abdul Wahid Wafi, Figh Lughah, Kairo: Dar al-Nahdhah, t.th, h. 165-166

  • [11] Azizah Fawwal Babaty, Al-Mu’jam al-Mufashshal fi Al-Nahwi al-‘Araby, Bairut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1992, h. 573

  • [12] Isytiqaq dibagai kepada 4 bagian; 1) isytiqaq al-Shaghir, yaitu membentuk kata-kata baru dari kata asal, namun antara satu sama lain memiliki makna sama dan urutan suku kata yang teratur, seperti perubahan shigah fi’il madhi ke mudhari’, amr, ism fa’il, ism mashdar, dan lain-lain; 2) isytiqaq al-Kabir, melahirkan kata baru dengan cara merubah letak akar kata yang dimilikinya, sehingga terbentuk beberapa kata, namun memeiliki keterkaitan, seperti سمل “lusus”(BA) ke ملس “halus” ; 3) isytiqaq al-Akbar, yaitu pembentukan kata barau melalui: (a) ibdal, seperti نوم menjadi نام , (b) menerima kata baru yang memeiliki arti yang sama dengan bahasa kode, namun keduanya berwazan yang sama sekalipun tidak terdiri dari suku kata yang sama, seperti سراط dengan kata صراط keduanyan bermakna (jalan) ; dan 4) isytiqaq al-Ashghar atau isytiqaq al-‘am, yaitu penganmbilan berbagai perubahan atau bentuk yang bercabang-cabang dari satu kata dengan berbagai macam makna, namun tetap mengandung satu makna, seperti عـرف kepada bentuk عـرّف , تعارف , تعرّف, dan lain-lain. Lihat Emil Badi’ Ya’qub, Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyah wa Khashaishuha, Bairut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, t.th, h. 186-201

  • [13] Menurut Kamal Muhammad Bisyr, ilmu nahwu membahas 4 segi, yaitu; 1) ikhtiyar (seleksi); 2) manq’iyat (urutan kata dalam kalimat); 3) muthabaqah (konkordan); 4) i’rab. Kamal Muhammad Bisyr, op.Cit, h. 139

  • [14] Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-ta’rifat, Bairut: Dar al-Kutub al-:ilmiyah, 1988, h. 240

  • [15] Harimurti Kridalaksana, op.Cit, h. 199

  • [16] Ahmad Mukhtar Umar, ‘Ilm al-Dilalah, Kuwait: Maktabah dar al-Arabiyah, 1982, h. 11 Dia juga menambahkan bahwa ruang lingkupnya juga meliputi segala sesuatu yang berbentuk lambang. Dengan demikian huruf juga merupakan pembahasannya, seperti huruf BK pada plat mobil, yang mengandung makna setiap kenderaan yang berplat BK secara administrasi adalah mobil yang berdomosili di wilayah Medan

  • [17] Staylistik, dalam bahasa Arab dikenal dengan علم الأسلوب , yang mempelajari tentang: 1). Kaidah-kaidah mengenai gaya bahasa untuk dipergunakan dalam percakapan dan tulisan, dan ini dinamakan dengan staylistik ta’limy, 2). Gaya bahasa dengan sejarah perkembangan serta aturan-aturannya, yang dinamakan dengan staylistik tarikhy, 3). Gaya bahasa secara historik, analitik dan komparatif, yang dinakan dengan staylistik muqaran. Lihat Ali Abdul Wahid Wafi, op.Cit, h. 8-9


Makalah atau artikelnya sudah di share, makasih ya !

Mau Makalah Gratis! Silahkan Tulis Email Anda.
Print PDF
Previous
Next Post »
Copyright © 2012 Aneka Makalah - All Rights Reserved