Konsep Pendidikan Para Nabi (Nabi Ibrahim As) - Aneka Ragam Makalah
Mencari...

Konsep Pendidikan Para Nabi (Nabi Ibrahim As)

7:41 AM
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sholawat dan salam semoga sellau tercurah kepada Rosulullah SAW. Teladan ummat sampai akhir zaman dalam semua aspek kehidupan untuk mengantarkan kita pada kebahagian didunia dan juga diakhirat.

Kisah kisah dalam Alquran sarat dengan hikmah dan ibroh yang tidak akan habis tergali sampai kapanpun, teladan yang abadi dicontohkan dalam sosok-sosok yang dikisahkan dalam Alquran, salah satunya Sosok Nabiyullah Ibrahim AS.

Beliau adalah adalah sosok seorang Rosul, pendidik, Ayah dan suami yang sukses mendidik keluarga dan ummat. Tak ada lagi yang meragukan kualitas keimanan, keshalihan dan kepemimpinannya sebagai seorang nabi, utusan Allah. Demikian pula tentunya dengan perannya sebagai ayah dan pendidik. Namun memang tidak mudah untuk begitu saja memahami atau mencerna konsep-konsep pendidikannya dalam mendidik keluarga dan ummat.Kalau kita coba mentadabburi firman Allah :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. QS. Ashaffat:102

Kita bias tarik kesimpulan bahwa bukan pendidikan biasa yang menghasilkan anak luar biasa yang dengan ahlaq yang mulia, keimanan yang memuncak, kesabaran yang tak terbayang, kepasrahan dan terhadap Allah dengan tanpa ada ragu sedikitpun menerima dan melaksanakan perintah Allah dan orang tuanya. Maka tidak berlebihan kemudian Allah abadikan dalam ayat lain:

إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), Ali Imran: 33

Demikian juga Allah SWT memerintahkan ummat ini untuk mengambil tauladan dari Nabi Ibrahim berikut orang –orang yang bersamanya, sebuah jaminan keidealan contoh dan model dalam semua aspek kehidupan khususnya dalam masalah pendidikan . firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. QS. Al Mumtahanah, 6

Konsep-konsep pendidikan Nabi ibrahim inilah yang coba kita akan kupas dan kita kaji untuk kita jadikan acuan dan teladan dalam pendidikan islam khususnya pendidikan keluarga muslim.


A. Pengertian Konsep dan Pendidikan Islam

Konsep berasal dari bahasa Inggris “concept” yang berarti “ide yang mendasari sekelas sesuatu objek”,dan “gagasan atau ide umum”. Kata tersebut juga berarti gambaran yang bersifat umum atau abstrak dari sesuatu[1] Dalam kamus Bahasa Indonesia, konsep diartikan dengan (1) rancangan atau buram surat tersebut. (2) Ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkrit (3) gambaran mental dari objek, proses ataupun yang ada diluar bahasa yang digunakan untuk memahami hal- hal lain (Tim Penyusun, 1989: 456).

Pendidikan Islam Menurut Arifin (1993:237) sebagaimana dikutif oleh Dr. Abdullah Idi, M.Ed menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan islam adalah merealisasikan manusia muslim yang beriman, bertaqwa, dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada sang khalik dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri kepadaNya dalam segala aspek kehidupan dalam rangka mencari keridhanNya [2] .

Prof. Dr Abuddin Natta MA mengungkapkan secara sederhana pendidikan islam dapat diartikan sebagai pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran islam sebagai mana yang tercantum dalam al-qur’an dan al-hadits serta dalam pemikiran para ulama dalam peraktek sejarah umat islam[3]. Pendidikan islam menurut Burlian somad; Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu, yaitu ajaran Allah[4].

Sedangkan menurut syekh Muhammad An-Naquib Al-Attas pendidikan islam adalah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat – tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan[5].


B. NABI IBRAHIM AS DAN KELUARGANYA

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Azar (tarikh) bin tahur bin saruj bin rau’ bin falij bin Aabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin saam bin Nuh AS. Menurut ibnu kastir nama lengkapnya adalah Ibrahim bin tarikh (250) bin Nahur (148) bin Sarugh (230) bin Raghu (239) bin Faligh (439) bin Abir (464) nbin Syalih (433) bin Arfakhsyadz (438) bin saam (600) bin Nuh AS.

Istri nabi Ibrahim yang pertama adalah sarah sedang yang kedua adalah hajar. Adapun anak anak beliau adalah Nabi Ismail dari istrinya Hajar, dan Nabi Ishaq dari Istrinya Sarah, kemudian dari Nabi Ishaq mempunyai anak Nabi Ya’qub kemudian Nabi Yusuf dan dari keturunan Nabi Ismail Nabi kita Nabi Muhammad SAW

C.KONSEP PENDIDIKAN NABI IBRAHIM AS.

Konsep pendidikan Nabi Ibrohim merupakan sebuah pola atau rancangan pendidikan yang diambil dari proses pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebagi konsep tentu tidak lepas dari komponen komponen Pendidikan yaitu Tujuan Pendidikan, Peserta didik, Materi Pendidikan, Metode, sarana dan media serta pendidik dengan sifat sifatnya.

1.Tujuan pendidikan dalam konsep Nabi Ibrahim AS

Sebuah pendidikan harus mempunyai tujuan, dan tujuan pendidikat islam secara umum adalah sama dengan misi manusia itu sendiri diciptakan dimuka bumi ini yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khholifah dimuka bumi sebagaimana firman Allah: QS. Adz dzariyat 56, dan surat Al Baqarah : 30

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….” QS. Al Baqarah; 30

Adapun nabi Ibrahim lebih menspesifikkan lagi dan lebih mendetailkan tujuan pendidikan dalam konsep Beliau, atau dengan bahasa lain yaitu menjadi muslim yang taat dan menjadi imam dan teladan bagi yang lain.

1.Menjadi muslim yang taat dan patuh kepada Allah SWT. Firman Allah SWT:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, makajanganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. QS. Al Baqarah: 132

Inilah tujuan pendidikan dalam konsep nabi ibrahim berikut juga anak-anak beliau yang juga menjadi nabi. Didorong juga karena suatu kekhawatiran yang selalu menghinggapi mereka yang mendorong mereka untuk mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan islam dan jangan sampai mereka lepas dari agama tercita ini. Terungkap kekhwatiran mereka dengan sebuah pertanyaan orang tua terhadapap anaknya yang sekarang sudah mulai dilupakan olah kebanyakan orang tua masa sekarang, firman Allah:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَـهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. QS. Al Baqarah: 133.

Pertanyaan; “apa yang akan kausembah sepeninggalku?” Inilah yang semestinya menjadi tujuan pendidikan tiap orang tua sekarang, dan Tujuan pendidikan islam adalah tujuan manusia itu sendiri diciptakan dimuka bumi ini yaitu untuk menyembah dan menjadi hamba Allah yang muttaqin, sebagaimana ayat diatas.

2. Menjadi imam para muttaqin

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji(^) Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”.(^) Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”. (^) Ujian terhadap Nabi Ibrahim a.s. di antaranya: membangun Kakbah, membersihkan Kakbah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain. QS. Al Baqarah: 124

Sejalan dengan firman Allah SWT.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Al Furqan: 74

Suatu tujuan yang luar biasa. Menjadi orang muttaqin sangatlah tidak mudah apalagi menjadi imam orang-orang muttaqin, ada beberapa tafsiran tentang kata imam diayat tersebut:

Ibnu Abbas, Al hasan, Qatadah, Asuddy, dan Ar robi’ bin anas berkata: maksud kata imam diayat tersebut adalah imam yang jadi panutan dan teladan dalam kebaikan. Sebagian yang lain memberikan makna: imam muttaqin adalah menjadi penunjuk jalan bagi orang orang yang dapat hidayah dan menjadi dai untuk menyeru kapada kebaikan, dengan harapan apa yang dilakukan, diserukan dan ibadah yang diprektekkan diteruskan oleh anak anak mereka juga siapa saja, sehingga menjadi amal yang bersambung tak henti memmberikan pahala yang melimpah meski sudah meninggal dunia pemilik amalnya.

2.Peserta Didik

Nabi Ibrahim AS. Mendidik dan berdakwah kepada semua lapisan dan dengan berbagai jenis dan latar belakang, serta beragam metode yang digunakan. Adapun peserta didik yang pertama dan utama adalah keluarga beliau sendiri, yaitu anak dan istri, kemudian orang tua baru kemudian kaumnya. Pendidikan keluarga menjadi prioritas pertama sebelum ke yang lain sebagaimana firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادُُ لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. QS. At Tahrim: 6

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ اْلأَقْرَبِينَ

dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, QS. ASysyuara’: 214

Maka Nabi Ibrahim memulai dari keluarganya dulu dari anak-anaknya kemudian istri dan keluarga besarnya, lalu ummatnya, Tergambar dalam beberapa ayat Allah SWT sebagai berikut:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Qs. Al Baqarah: 132

إِذْ قَالَ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ أَئِفْكً ءَالِهَةً دُونَ اللهِ تُرِيدُونَ فَمَاظَنُّكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ فَنَظَرَ نَظْرَةً فيِ النُّجُومِ

“ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu ?Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?Maka Apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” QS. AShoffat: 85-87

Dari ayat diatas Nabi ibrahim mendahulukan kelurganya sebelum kemudian masyarakat dan ummatnya secara umum untuk didakwahi dan dilakukan proses penyadaran dan pendidikan.

Demikianlah konsep pendidikan Islam harus dimulai dari dalam rumah, rumah adalah “Madrasah ula” bagi anak-anak sebelum mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari lingkungan masyarakat dan sekolah atau lembaga lembaga formal lainnya. Dan sebagai pendidik demikian juga harus menjadikan rumah, anak dan keluarganya menjadi teladan bagi keluarga yang lain sehingga dakwah dan bimbingan akan lebih berpengaruh bagi objek dakwah atau peserta didik.

3. Materi Pendidikan dalam Konsep Pendidikan Nabi Ibrahim.

Islam adalah agama yang syamilah dan mutakamilah, mencakup semua aspek kehidupan, maka materi pendidikan islam juga harus menggunakan konsep syumuliyah. maka materi pendidikan islam juga harus terpadu, tidak sekuler, Total tidak juz’iyyah atau parsial, firman Allah SWT. Al Baqarah, 208:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Tidak ada yang terlewat dari pembahasan dan pengaturan oleh islam, mulai aturan keluar masuk WC, sampai mengatur negara termasuk pendidikan yang memang posisinya begitu penting dalam Islam. Allah berfirman dalam Surat Al An’am, 38:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَطاَئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلآَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”

Demikian juga materi pendidikan yang ada dalam konsep pendidikan Nabi Ibrahim AS.

Pertama adalah Masalah Aqidah dan Ketauhidan.

Tergambar dalam beberapa ayat komunikasi dakwah antara Nabi ibrahim dengan bapaknya demikian juga kaumnya frman Allah:

ø وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً إِنِّى أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

“ dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” QS. Al Anam: 74

إِذْ قَالَ لأَبِيهِ يَآأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَالاَيَسْمَعُ وَلاَيُبْصِرُ وَلاَيُغْنِي عَنكَ شَيْئًا يَآأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَآءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَالَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا يَآأَبَتِ لاَتَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا يَآأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“ ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. QS. Maryam. 42-45

إِذْ قَالَ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاهَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ قَالُوا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَابِدِينَ قَالَ لَقَدْ كُنتُمْ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنتَ مِنَ الاَّعِبِينَ قَالَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

(ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung Apa mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak Kami menyembahnya”.Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”.mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu Termasuk orang-orang yang bermain-main[961]?”Ibrahim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku Termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”.QS. Al Anbiya’

Demikian juga dalam surat al Ankabut 16-17, Surat asyuara’ 70-82, Azzuhruf 26-28

Kita juga bisa lihat dalam kisah ketauhidan dan gambaran keimanan serta aqidah yang kuat sebagai pelajaran bagi kita semua, yaitu pada saat Nabi Ibrahim AS. Dibakar hidup-hidup oleh penguasa yang berseberangan aqidah dengan beliau setelah kejadian penghancuran berhala oleh Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al Quran Surat Al Anbiya’ ayat 51-70. Firman Allah:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“ mereka berkata: “Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, QS. Al Anbiya’, 68-69

Ketika Nabi Ibrahim diikat kalimat yang beliau katakan adalah :

“لا إله إلا أنت سبحانك رب العالمين لك الحمد ولك الملك لا شريك لك “

“Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha suci Engkau wahai rabb semesta alam bagi-Mu segala puji, dan bagi-Mu kerajaan tiada sekutu bagi-Mu” [6]

Lalu ketika dilemparkan kedalam api beliau mengatakan:

حسبنا الله ونعم الوكيل
“cukuplah bagi kami, Allah sebagai pelindung”

Sebagaimana diriwayatkan imam Bukhori dalam shohihnya[7]:

عن ابن عباس أنه قال : حسبنا الله ونعم الوكيل قالها إبراهيم حين ألقي في النار وقالها محمد حين قيل له : { إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم إيمانا وقالوا حسبنا الله ونعم الوكيل * فانقلبوا بنعمة من الله وفضل لم يمسسهم سوء } الآية

Dari Ibnu Abbas sesungguhnya beliau berkata: kalimat “hasbunallah wani’mal wakiil” diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Ketika dilemparkan kedalam api, demikian juga diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika dikatakan kepada beliau ( pada perang Ahzab atau perang khondaq): “(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar” QS.Al Anbiya’ 173-174

Hal ini memberikan gambaran sikap ketauhidan Nabi Ibrahim, keimanan yang kuat, aqidah yang lurus. Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan adalah Allah sebaik-baik pelindung. Senada dengan firman Allah, surat Alfatihah

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Demikian juga firman Allah surat Al An’am ,162.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. QS. Al An’am, 162

Kedua: ibadah dan Tazkiyatun Nufus

Ibadah dan tazkiyyatun nufus sebagai manifestasi tujuan dan misi setiap manusia untuk menyembah Allah SWT dan selalu melakukan pensucian diri dari penyakit penyakit yang mengotori hati, Sholat, doa, haji, menunaikan nazar, dan semua perintah Allah serta menjauhi larangan-larangannya, serta mengikhlaskan semua ibadah hanya karena Allah. Firman Allah:

رَبَّنَآ إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. QS. Ibrahim 37

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.QS. Ibrahim: 40

Suatu permohonan kepada Allah yang dilakukan oleh seorang nabi tentu setelah melakukan ikhtiar yang sudah maksimal, dan sudah melakukan proses pembinaan dan pendidikan sebelumnya, dalam doa yang dimunajatkan beliau meminta agar Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk tetap istiqamah dan mendirikan sholat.

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ …

“dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya”. QS. Al Baqarah: 124.

Hadist Ibnu abbas, mustanna menceritakan dari ishaq, Muhammad bin Harbi, Ibnu Lahi’ah dari Ab u Hurairah, Hinsi dari Ibnu Abbas Nabi Ibrahim diuji oleh Allah dan dapat mnyempurnakannay yaitu enam pada diri manusia dan empat dalam ibadah haji, pada diri manusia yaitu mencukur kumis, khitan, mencabut bulu ketiak, menggunting kuku, mencukur bulu kemaluan, mandi pada hari jumat dan empat lagi pada ibadah haji: thowaf, sa’I antara showa dan marwa, melempar jumrah dan ifadhah dan dlam keterangan ismail bin kholid redaksinya ujian itu adalah ibadah haji.[8]

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لاَّتُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَالْقَآئِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأِذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَارَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). QS. Al Haj: 26-29

Tazkiyatunnufus

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لإِبْرَاهِيمَ إِذْجَآءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“dan Sesungguhnya Ibrahim benar-benar Termasuk golongannya (Nuh), (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” QS. Ashoffat : 83-84

Hati yang bersih dan suci adalah gambaran hasil proses tazkiyyatun nufus yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS

Ketiga: Ahlaq Al Karimah

Cakupan pembahasan ahlaq dalam pendidikan islam amatlah luas dia mencakup ahlaq kepada Allah, akhlak kepada kedua orang tua, akhlaq kepada sesama manusia dan akhlaq kepada siapapun juga, Firman Allah: menggambarkan ucapan nabi Ibrahim AS.

ö فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلأَخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةَ النَّعِيمِ وَاغْفِرْ لأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّآلِّينَ وَلاَتُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku,dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu,dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian, dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”, QS. Asyuaro’: 77-89

Ahlaq terhadap sesama muslim dengan dianjurkannya berpegang teguh pada kitab Allah dan tidak boleh pecah belah diantara mereka, firman Allah:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَاتَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” .QS.Asyura: 13

Akhlaq kepada orang tua

ž إْلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ ِلأَبِيهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآأَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِن شَىْءٍ

“Kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. QS. Al Mumtahanah : 4
  • Meskipun kemudian beliau dilarang mendoakan lagi karena bapaknya dalam kekafiran
  • Akhlaq terhadap tamu dengan memberikan sambutan hangat dan memberikan jamuan

ö هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلاَمًا قَالَ سَلاَمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَآءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?(ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk “ QS. Adzariyat 24-26

4.Metode Pendidikan dalam konsep Pendidikan Nabi Ibrahim AS 

Setelah kita tadabburi ayat ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim dapat ambil beberapa bentuk metode yang Nabiyullah Ibrahim AS gunakan dalam pendidikan.

1.Metode Keteladanan atau Uswah Hasanah

Keteladanan merupakan salah satu metode dalam pendidikan Islam yang pengaruhnya luar biasa bagi peserta didik. Apalagi dizaman sekarang ini yang miskin keteladanan. Allah jadikan Nabi Ibrahim sebagai teladan bagi keluarga, anak dan ummatnya dalam menunaikan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya, demikian juga akhlaq kesehariannya. Sampai kita ummat Muhaamd SAW juga diperintahkan untuk mengambil teladan dari Abul Anbiya’ ini, Firman Allah dalam QS. QS. Al Mumtahanah 4 dan 6

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.”

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan Barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. QS. Al Mumtahanah 4 dan 6

Sebagaimana kita juga diperintahkan meneladani Rosulullah Muhammad SAW. Dalam semua aspek kehidupannya. QS. Al Ahzab:21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. QS. Al Ahzab: 21

Banyak sekali keteladanan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim bagi keluarganya, ummatnya dan juga ummat Muhammad SAW yang tersebar di berbagai surat dalam Al Quran: diantaranya Keteladanan dalam kesabaran, Keteladanan dalam keimanan, Keteladanan dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang Allah berikan, Keteladanan dalam kehanifannya. Firman Allah SWT:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh.”

2.Metode nasihat

Metode nasehat dalam Alquran digunakan untuk menyentuh hati supaya manusia mengarah kepada tujuan yang diharapkan. Metode ini juga menempati posisi yang sangat penting dalam proses pendidikan islam dan penanaman nilai nilai sebagaiman firman Allah: QS An Nahl: 125

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS. An Nahl: 125

Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Nasehat atau juga bisa dengan sebutan wasiat atau pesan yang baik dengan cara yang baik dan disesuaikan dengan situaisi dan kondisi yang tepat akan sangat berpengaruh pada diri peserta didik. Nabi Ibrahim menggunakan metode ini dalam pendidikan anak-anaknya tergambar dalam firman Allah SWT. QS. Al Baqarah: 132

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. QS. Al Baqarah : 132

Demikian juga nasehat beliau kepada bapak dan juga kaumnya. Firman Allah

إِذْ قَالَ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ أَئِفْكً ءَالِهَةً دُونَ اللهِ تُرِيدُونَ فَمَاظَنُّكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ فَنَظَرَ نَظْرَةً فيِ النُّجُومِ

“ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?Maka Apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” QS. AShoffat: 85-87

Sebagaimana Allah mensifati manusia dengan sifat orang yang merugi ketika orang tersebut tidak mau saling nasehat menasehati dalam ketaqwaan, kesabaran, kebenaran dan dalam kasih sayang. Firman Allah QS. Al Asr 2-3 dan Al Balad : 17

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“dan Dia (tidak pula) Termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

3,Metode dialog

Salah satu metode yang digunankan nabi Ibrahim adalah metode dialog. Metode ini digunakan untuk mengetahui dan memantapkan pangetahuan peserta didik yang dia miliki. Dialog yang begitu mengharukan sekaligus sarat dengan ibroh pendidikan sekaligus menggambarkan tingkat keimanan yang sangat tinggi dari pendidik ( Nabi Ibrahim) dan peserta didik (Nabi Ismail)

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. QS. AshShoffat: 102

Metode ini juga digunakan Jibril AS ketika mengajarkan tentang prinsip-prinsip agama dimajlis Rosulullah SAW. Demikian juga Rosulullah dengan shahabat shahabatnya. Sebagaimana hadist Mudz bin Jabal yang ditanya Rosullullah tentang Hak hamba atas Allah dan hak Allah atas hamba.

Metode ini ternyata memang sangat efektif karena objek ikut aktif menimba pengetahuan, posisinya tidak pasif dan beku

4. Metode Adu Argumen

Metode ini digunakan Nabi Ibrahim untuk mementahkan aqidah mereka yang sesat yang menuhankan berhala dan benda antariksa, firman Allah SWT.

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاء رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ

“dan Dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, Padahal Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ” QS. Al Anam: 80

5.Sarana dan Media Pendidikan Islam dalam konsep Nabi Ibrahim 

Pendidikan membutuhkan sarana demi kelancaran dan suksesnya proses pendidikan sehingga mencapai hasil yang diharapkan, diantara sarana-sarana yang digunakan Nabiyullah Ibrahim, AS dalam konsep pendidikannya adalah:

1.Baitullah

Salah satu sarana dalam mentarbiyyah adalah mencari atau membentuk biah/lingkungan yang shalihah. Representasi biah/lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim adalah Baitullah al muharram (rumah Allah yang mulia), dan kalau kita adalah masjid secara umum. Mendekatkan anak-anak dan peserta didik dengan masjid sejak dini sangatlah bagus.

Termasuk Salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya selalu cenderung kepada masjid. Sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al quran. QS. Ibrahim :37

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.

Tepat sekali masjid dalam islam merupakan central kegiatan keislaman dan bimbingan ummat. Terutama tarbiyyah islamiyyah. Tempat yang sangat kondusif untuk penbentukan pribadi yang ‘abid, berahlaq mulia dan cerdas dengan pengetahuan yang luas. Alangkah indahnya bila masjid menjadi simbol dan icon setiap lembaga pendidikan di Indonesia. Saya sangat kagum ketika prof.. Dato’ Dr .Muhammad Azmi. dari Malaysia menjelaskan bahwa IIU Malaysia yang mahasiswanya berjumlah 22.000 dari dalam dan luar negeri symbol dan icon yang ada ditengah-tengah komplek Universitas tersebut adalah Masjid/ Baitullah fil Ardl.

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. di waktu membuat Ka’bah. QS. Al Baqarah : 125

2.Benda Antariksa

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ فَلَمَّآ رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاء رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ

“ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. dan Dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, Padahal Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” Al Anam: 76-80

Ada sedikit perbedaan pendapat para mufassirin atas posisi nabi Ibrohim dalam ayat diatas, apakah beliau sedang mencari tuhan ( Nadhir) atau posisi adu argument dan iqomatul hujjah (Munadzir) terhadap kaumnya yang menyembah berhala dan benda antariksa, namun pendapat yang kuat adalah bahwa posisi Nabi Ibrahim adalah iqomatul hujjah dan pengingkaran terhadap apa yang dilakukan ummatnya . dimulai dari pengingkaran terhadap ayahnya yang membuat dan menyembah berhala dengan argument ergumen yang tegas dan jelas, kemudian beralih ke benda antariksa, yang satu persatu di mentahkan oleh Nabi Ibrahim atas kelayakannya sebagai tuhan. Mulai dari bintang, kemudian bulan dan terakhir matahari. Sebagai bukti dan dalil kebenaran pendapat ini adalah penutup rentutan ayat tersebut yaitu :

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.

Demikian juga ayat lain

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ * إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung Apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” QS Al Anbiya’: 51-52

¨ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif[843]. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), An Nahl : 120

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik”. QS. Al An’an : 161

Demikian juga hadist muslim:
“كل مولود يولد على الفطرة” مسلم
“Bahwa setiap bayi yang lahir dalam kondisi fitrah “

Beliau adalah kholilullah maka beliau lebih berhak menyandang predikat fitrah setelah Rosulullah Muhammad SAW. Dan dalil terakhir yang membatah posisi Nabi Ibrahim sebagai Nadzir akan tetapi sebagai munadzir yaitu :

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ…….

Dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah,…..[9]

Jadi Nabi Ibrahim menggunakan alam semesta sebagai sarana dan media untuk mendidik, mengajari dan membantah argument para penyembah berhala dan benda antariksa. Inilah media yang nyata yang langsung bisa dirasakan dan diindra. Sehingga tidak bisa terbantahkan lagi. Sebagaimana adu argumen Nabi Ibrahim dengan penguasa ketika itu Raja Namrudz yang mengaku sebagai tuhan yang di abadikan dalam Al Quran:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. QS. Al Baqarah: 258

c.Binatang

Salah satu syarat keimanan adalah Al Yakin Al munafi lisyak ( keyakian yang menepiskan semua keraguan), dalam ayat berikut ini Nabi Ibrahim ingin lebih menenangkan hatinya dan memperkuat keimanannya dengan minta diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan makhluq setelah kematiannya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah[165] semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” .QS. Al Baqarah: 260

Dengan sarana 4 burung yang dicincang tersubut maka Nabi Ibrahim melakukan pendidikan keimanan terutama keimanan terhadap yaumul ba’st/ hari kebangkitan yang termasuk masalah yang ghoib.

6.Sifat –sifat Nabi Ibrahim AS Sebagai Pendidik

Allah swt menyebut Nabi Ibrahim dengan sebutan “Ummah” dalam surat An Nahl, sebutan khusus yang kemudian dilanjutkan dengan sifat sifat ummah tersebut:

¨ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً

Para mufassirun memberikan makna kaliamat ummah adalah sebagai berikut, Ibnu masu’d ra. Memberi makna ummah adalah muallimul khoir /orang yang mengajarkan kebaikan atau dikesempatan yang lain beliau menyebut muallimunnasa al khoir/orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusi, sehingga beliau menjuliki Muadz bin jabal ra. dengan jululukan :

إن معاذًا كان أمة قانتا لله حنيفا

Sedang ibnu umar ra: memberi makna ummah adalah Muallimunnasa dinahum / orang yang mengajarkan agama kepada manusia. [10]

Berdasarkan tafsir para mufassirin diatas maka Nabiyullah Ibrahim AS adalah muallim, pengajar dan pendidik yang diungkapkan dengan ungkapan ummah oleh Allah SWT. Yang mempunyai sifat dan akhlaq utama sebagai pendidik.

Seorang pendidik harus menghiasi diri dengan ahlaq mahmudah dan sifat-sifat asasi bagi seorang pendidik. Karena peserta didik akan melihat sebelum mendengar apa yang akan disampaikan. Ahlaq menjadi syarat pokok dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan. Sebagai contoh betapa pentingnya ahlaq bagi seorang pendidik.

Imam adzdzahabi berkata: Imam Ahmad majlisnya dihadiri tidak kurang dari 5000 orang, hanya sekitar 500 orang yang mencatat dan menulis hadist dari beliau selebihnya mereka memperhatikan sifat-sifat, ahlaq, dan adab beliau[11]

Imam Abu Bakr Al muthowii rohimahullah berkata: saya berinteraksi dengan imam Ahmad bin hambal selama 12 tahun. Dan selama itu beliau menbacakan kitab musnadnya kepada anak-anak anaknya, tidak satupun hadis yang aku tulis darinya, saya hanya memperhatikan petunjuk petunjuknya dan ahlaqnya.[12]

Ada banyak sifat yang telah dicontohkan oleh nabiyullah Ibrahim AS. Sebagai seorang Nabi sebagai pendidik yang bias kita jadikan pelajaran dalam mendidik anak anak kita dan juga murid murid kita semua:

1. Patuh kepada Allah

¨ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), QS. An Nahl:120

Makna qonitan dalam ayat diatas: menurut ibnu mas’ud Qonitan artinya selalu taat kepada Allah dan Rosul-Nya, sedang ibnu Kastir : member makna orang yang khusus’ dan taat.[13]

Inilah sifat asasi bagi seorang pendidik, dia harus taat kepada Allah dan Rosulnya, melakasanakan perintah perintah-Nya dan menjauhi larangan larangan-Nya.


Hanifan / حنيفا

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna hanifan adalah orang yang mentauhidkan Allah dan berpaling dari kemusyrikan, maka diakhir ayat ditutup dengan “ dan ibrohim bukan termasuk orang orang yang musyrik”

حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ujung dari ke “hanifan” adalah keikhlasan dalam melaksanankan semua tugas pendidik, dengan keikhlasan, seorang Pendidik akan melaksanakan tugas-tugasnya dengan hati yang ringan dan lapang meskipun sebenarnya tugas yang dilaksanakan itu berat, sebaliknya, tanpa keikhlasan, meskipun ringan tugas yang akan dilaksanakan, dia akan merasakan sebagai sesuatu yang berat. Perintah harus berlaku ikhlas terdapat dalam firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan penuh keihlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS. 98:5).

Mensyukuri Nikmat yang Allah berikan/ لأنعمه شاكرا

شَاكِرًا لأَنْعُمِهِ

. “(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. QS. An Nahl: 121

Minimnya gaji serta keterbatasan sarana yang ada sering memunculkan ketidak ikhlasan dan kurang qonaah dalam menjalankan proses pendidikan. Yang pada akhirnya menjadi orang yang suka berkeluh kesah dan tidak bias menyukuri kondisi yang ada. Maka dari itu jiwa yang pandai bersyukur akan banyak membawa kenbaikan dan keberkahan, baik bagi diripendidik maupun orang orang sekitarnya khususnya peserta didik. Rosulullah SAW bersabda:


عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».

Bari annu’man bin bisyr berkata. Rasulullah SAW bersabda: barang siapa tidak bias mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan bias menyukuri yang banyak. Dan barang siapa tidak bisa bersyuku/ berterikasih kepada manusia maka dia tidak akan bisa berterima kasih kepada Allah, mengungkapkan kenikmatan adalah syukur nikmat sedangkan, meninggalkannya adalah kufur.berjamaah adalah rahmah dan perpecahan adalah musibah, [14]

As Shidq/ Jujur

Firman Allah SWT:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi .QS. Maryam: 41

Kejujuran amatlah mahal, bahkan Rosulullah berani menjamin orang yang jujur dan menjaga lisan dari berkata yang tidak benar dengan surga. Sabda Rosulullah SAW:

عنسَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ يَتَكَفَّلُ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ »

Dari sahl bin sa’ad berkata, Rosulullah SAW bersabda: barangsiapa menjamin bagiku keselamatan antara kumis dan jenggotnya (mulut) dan antara kedua pahanya (kemaluannya) maka aku jamin baginya surga[15]

Amanah atau wafa’

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى

“dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? “ QS. An Najm: 37

Tugas mendidik merupakan amanah yang amat berat, peserta didik bila mereka adalah anak dan istri kita, maka mereka adalah amanah dari Allah yang harus betul betul kita jaga, dan akan dimintai tangung jawab diakhirat nanti dihadapan Allah SWT. Demikian juga peserta didik di lembaga formal tempat kita bertugas, maka kita memikul amanah dari para orang tua anak didik kita, yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapan mereka sekaligus juga dihadapan Allah nanti. Maka seorang pendidik harus memilki sifat amanah dan menunaikan semua tugasnya. Sebagaimana qudwah kita Nabiyullah Ibrahim AS, demikian juga nabi kita Muhammad SAW.

Cerdas dan Berilmu tinggi/ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. QS. Shaad:45

Menurut ibnu Abbas: makna ulul aidy adalah yang punya kekuatan, sedangkan absor adalah kefahaman terhadap agama. Menurut Mujahid makna ulul aidi adalah kekuatan untuk melaksanakan ibadah sedangkan al absyor adalah mampu melihat al haq/ kebenaran. Imam Qatadah dan Suddy: Ululul aidi wal absyor adalah : Allah karuniakan kekuatan dalam ibadah dan kemampuan memahami agama.[16]

Dengan tafsir makna ulul aidi wal absyor yang dijelaskan para mufassirin diatas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim sebagai pendidik sangat mumpuni dalam keilmuan terutama addin/ agama, disaat yang sama juga kuat dalam beribadah. Demikianlah Kecerdasan intelaktual yang dimiliki pendidik harus diiringi dengan kecerdasan ruhiyah dan ubudiyyah sebagaimana sifat ulul abab yang Allah jelaskan dalam surat Ali Imran ayat: 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَآ مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. QS. Ali Imran: 191 (

Ashobru/ Sabar

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“ Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”. QS. Al Ahqah: 35.

Banyak bentuk-bentuk kesabaran yang telah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS. Diantaranya adalah:
  • Kesabaran yang luarbiasa dalam berdoa untuk menanti untuk mendapatkan keturunan, yang pada akhirnya dikabulkan oleh Allah meskipun ketika lahir Nabi Ismail beliau sudah berumur 70 tahun sedangkan Nabi Ishaq lahir ketika umur beliau 100 tahun.
  • Kesabaran beliau untuk melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih anak tercinta yang ditunggu sekian lama.
  • Kesabaran Beliau dalam mentarbiyah diri dan keluarganya
  • Kesabaran beliau dalam mendakwahi bapaknya dan ummatnya
  • Kesabaran Beliau dalam menanggung resiko dakwah dan di bakar hidup-hidup oleh Raja Namruz

Demikianlah seorang pendidik harus mempunyai kesabaran yang berlapis dalam menjalankan proses pendidikan, sebagaimana perintah Allah :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (QS. Ali Imran :200).

Lemah lembut dan halus perasaan (arrifqi wal hilmu)

Kita lihat betapa contoh yang luarbiasa tergambar dalam dakwah Nabi Obrahim kepada bapaknya. Ibnu katsir dalam Qasasul Anbiya’ menjelaskan: didalam surat maryam mulai ayat 41 sampai 50, Allah menjelaskan komunikasi dakwah antara NAbi Ibrahim dengan bapak dengan sehalus-halusnya tutur bahasa dan sebaik-baiknya isyarat. Beliau menjelaskan kebatilan sesembahan bapaknya dengan menyatakan bahwa “berhala yang disembah bapaknya tidak bias berbicara, tidak pula bias mendengar, tidak bias bermanfaat untuk dirinya ataupun yang lainnya. Tidak bias menolong dirinya tidak pula bias memberi rizki. Kemudian beliau menyampaikan kepada bapaknya

“Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.

Namun bapaknya menjawab:

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”

Lalu di jawab kembali Ibrahim :

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Demikianlah gambaran kelembutan Nabi Ibrahim dalam mendakwahi dan mengajak bapaknya, sampai dakwahnya ditolak bapaknyapun, beliau tetap berjanji akan mendoakannya agar Allah berikan kebaikan petunjuk dan ampunan, sampai Allah kemudian memberikan keputusan untuk melarangnya.

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ

“dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun. QS. At Taubah, 114.

Daftar Pustaka dan Footnote
Daftar Pustaka

أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي قصص الأنبياء تحقيق مصطفى عبد الواحد الجزء الاول يطلب من دار الكتب الحديثة 1388 هـ – 1968 مـ

عبد العزيز بن فتحي السيد ندا, موسوعة الآداب الإسلامية المرابة على الحروف الهجائية, دار الطيبة, الرياض, 1424-2003

أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةدار طيبة للنشر والتوزيع, الثانية 1420هـ – 1999 م

عثمان قدري مكانسي, التربية النبوية, دار ابن حزم, بيروت, لبنان, 1417هـ- 1997م

الشوكانيو محمد بن علي بن محمدو فتح القدبر ( تفسير الشوكاني), دار المعرفة, 1417هـ-1997م , بيروت لبنان

السعدي, عيد الرحمن بن ناصر, تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان (التفسير السعدي), مئسسة الرسالة 1423هـ-2002مـ

شمس الدين أبو عبد الله محمد بن أحمد بن عثمان بن قَايْماز الذهبي , سير أعلام النبلاء المحقق : مجموعة من المحققين بإشراف الشيخ شعيب الأرناؤوط, مؤسسة الرسالة الطبعة : الثالثة ، 1405 هـ / 1985 م,



Nasih Ulwan, DR. Abdullah. Pendidikan Anak dalam Islam. Pustaka Amani, 1995, Jakarta

Sa’id Mursi, Muhammad. Melahirkan Anak Masya Allah, Sebuah terobosan Baru pendidikan Anak Modern, Cendekia, Jakarta,1998.

An Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam dirumah, sekolah dan masyarakat, Gema Insani Press, Jakarta, 1995,

Drs. Burlian Somad , Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, PT. Al-Ma’arif, 1981.

Cowie, Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, London:Oxford University Press, 1974

H. Jamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandunng: CV. PUSTAKA SETIA, 1999

Prof. Dr Abuddin Natta, Manajemen Pendidikan Cet. Ke 3, Kencana Prenada Media Group:Jakarta, 2008,

Syekh Muhammad An-Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Mizan: Jakarta, 1984,

--------------------

[1] Cowie, Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, London:Oxford University Press, 1974



[2]. H. Jamaluddin dan Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandunng: CV. PUSTAKA SETIA, 1999. h. 9-10



[3] . Prof. Dr Abuddin Natta, Manajemen Pendidikan Cet. Ke 3, Kencana Prenada Media Group:Jakarta, 2008,h. 173



[4] . Drs. Burlian Somad , Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, PT. Al-Ma’arif, 1981. h. 21



[5] . Syekh Muhammad An-Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Mizan: Jakarta, 1984, H.10



[6] أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي قصص الأنبياء 1/171



[7] HR. Bukhori, no.4563,



[8] أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةو دار طيبة للنشر والتوزيع,ط. الثانية 1420هـ – 1999 م







[9] lihat أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي قصص الأنبياء 1/173-174 وكذلك أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةدار طيبة للنشر والتوزيع, الثانية 1420هـ – 1999 م, 3/292-293





[10]أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةو دار طيبة للنشر والتوزيع,ط. الثانية 1420هـ – 1999 م, 4/610



[11] شمس الدين أبو عبد الله محمد بن أحمد بن عثمان بن قَايْماز الذهبي , سير أعلام النبلاء المحقق : مجموعة من المحققين بإشراف الشيخ شعيب الأرناؤوط, مؤسسة الرسالة الطبعة : الثالثة ، 1405 هـ / 1985 م, ص: 11/316



[12] شمس الدين أبو عبد الله محمد بن أحمد بن عثمان بن قَايْماز الذهبي , سير أعلام النبلاء المحقق : مجموعة من المحققين بإشراف الشيخ شعيب الأرناؤوط, مؤسسة الرسالة الطبعة : الثالثة ، 1405 هـ / 1985 م, ص: 11/316



[13] أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةدار طيبة للنشر والتوزيع, الثانية 1420هـ – 1999 م, 4/610





[14] HR. Ahmad, no 18946



[15] HR, turmudli , hadis hasan shohih ghorib, hadist ini juga diriwayatkan dari Abu hurairah ra. No. 2590



[16] [16] أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي تفسير القرآن العظيم, المحقق : سامي بن محمد سلامةدار طيبة للنشر والتوزيع, 7/76


Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijinkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Konsep Pendidikan Para Nabi (Nabi Ibrahim As), anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com
Ibrahim Lubis

Penulis:

Judul Makalah: Konsep Pendidikan Para Nabi (Nabi Ibrahim As)
Semoga Makalah ini memberi manfaat bagi anda, tidak ada maksud apa-apa selain keikhlasan hati untuk membantu anda semua. Jika terdapat kata atau tulisan yang salah, mohon berikan kritik dan saran yang membangun. Jika anda mengcopy dan meletakkannya di blog, sertakan link dibawah ini sebagai sumbernya :

0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih