Umayyah 2 Di Andalusia - Aneka Ragam Makalah
Mencari...

Umayyah 2 Di Andalusia

1:00 AM
Dalam sejarah, umat Islam pernah mencapai puncak kemajuan dan kejayaan. Daulah Umayyah dan Abbasiyah pernah memegang peranan penting dalam perwujudan kejayaan ini. Pemerintah Daulah Bani Umayyah telah berkembang dan melakukan perluasan Islam ke berbagai wilayah di antaranya adalah ke Andalusia yang tercatat telah memberikan banyak kontribusi dalam peradaban Islam. Ketika Islam jaya di Andalusia banyak orang-orang Eropa yang belajar di Perguruan-perguruan Tinggi Islam Disana. Islam Menjadi “Guru” bagi orang-orang Eropa. Karena itu kehadiran Islam di Andalusia banyak menarik perhatian sejarawan. Namunpun demikian perkembangan Islam di Andalusia tidaklah begitu lama dibandingkan dengan Islam di Timur pada masa Abbasiyah.

Selama tujuh abad Islam di Andalusia telah mencapai masa keemasannya yang dapat dijadikan pusat peradaban Islam, yang dimulai sejak khalifah al-Walid (705-715 M) Dalam makalah ini, penulis mencoba mendeskripsikan secara umum terhadap perkembangan Islam di Andalusia (Spanyol), dengan sistematika pembahasan yang meliputi: Pendahuluan, pembentukan dan jatuhya Andalusia kedalam kekuasaan Bani Umayyah, perkembangan Islam dan keberadaan Daulah Umayyah di Andalusia, kemajuan perdaban Islam di Andalusia dan kehancurannya, serta diakhiri dengan catatan penutup.

Pembentukan dan jatuhnya Andalusia kedalam Kekuasaan bani Umayyah

Menurut catatan sejarah, sebelum Islam dapat menguasai daerah Afrika Utara, di daerah ini terdapat kekuatan-kekuatan kerajaan Romawi. Kerajaan inilah yang selalu mengajak masyarakat agar mau menentang kekuasaan Islam. Namun pemikiran mereka itu dapat dihabiskan atau denagan kata lain kerajaan Romawi dapat dikalahkan oleh kekuasaan Islam, sehingga wilayah Afrika Utara dapat dikuasai sepenuhnya dan dari daerah inilah Islam menguasai Andalusia.1

Sebelum penaklukan Andalusia, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikan sebagai salah satu provinsi dari Daulah Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah Abdul Malik (685-705 M).2

Dalam konteks sejarah, sebelum mereka menaklukkan Andalusia, pada masa pemerintahan khalifah sebelum al-Walid yaitu khalifah Abdul Malik (685-705 M), umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikan salah satu provinsi dari Daulah Umayyah, dan yang menjadi gubernur adalah Hasan bin Nu’man al-Ghassani.2 Namun pada masa pemerintahan Daulah Umayyah pada masa khalifah al-Walid, gubernur di Afrika Utara tersebut digantikan kepada Musa ibn Nushair. Pada masa Musa ibn Nushair, mereka berhasil menduduki al-Jazair dan Maroko dan daerah bekas Barbar.

Dalam proses penaklukkan Andalusia terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tahrif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada antara Marokko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda , mereka menaiki empat kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit banyaknya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visighotic yang berkuasa di Andalusia pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M, mengirim pasukan ke Andalusia sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziad.

Thariq Ibn Ziad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Andalusia karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebahagian suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim khalifah al-Walid. Pasukan ini kemudian menyeberangi selat di bawah Thariq ibn Ziad.3 Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Giblaltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Andalusia. Sehingga terjadilah pertempuran didaerah Balk yang merupakan tempat Raja Roderick.4

Dengan demikian Thariq dapat menakluk Cardova, Granada, dan Toledo. Kemenangan ini memberikan peluang yang sangat besar untuk menaklukkan kewilayah yang lebih luas lagi. Atas dasar inilah akhirnya Musa ibn Nushair turun membantu Thariq. Akhirnya Musa ibn Nushair dan Thariq bergabung dan berhasil menaklukkan wilayah-wilayah penting di Andalusia, seperti Saragosa, Novare, Karmona, seville, dan Merida.

Perluasan wilayah selanjutnya dilakukan pada masa pemerintah Umar bin Abduh Aziz tahun 99 H atau 717 M. Wilayah yang ingin ditaklukkan Pirenia dan Perancis Selatan. Namun penaklukkan ini mengalami kegagalan. Al-Samah, pemimpin pasukan mati terbunuh, kemudian diserahkan kepada Abd Rahman, namun beliau juga mengalami kegagalan, dan akhirnya pasukan Islam mundur. Namunpun demikian peperangan tetap terus dilakukan. Sehinnga gelombang kedua yang dimulai abad ke delapan kaum muslimin sudah dapat menguasai seluruh daerah Andalusia seperti wilayah Perancis selatan dan bagian Itali, dan akhirnya kekuasaan Islam di daerah ini semakin kuat.

Adapun kemenangan-kemenangan yang dicapai umat islam nampak begitu mudah, hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yaitu:

a. Faktor Internal, adapun faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasaan Islam, termasuk tokoh-tokoh pejuang dan prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Andalusia pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan yang terdapat dalam diri pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Andalusia menyambut baik kehadiran Islam disana.

b. Faktor Eksternal, adapun yang dimaksud dengan faktor eksternal ini adalah suatu keadaan yang terdapat dalam negeri Andalusia itu sendiri. Dimana saat itu kondisi sosial, politik dan ekonomi negeri ini dalam keadaan yang menyedihkan. Secara politik wilayah Andalusia terkoyak-koyak dan berbagi kedalam beberapa negeri kecil. Ditambah penguasa gothik bersikap tidak toleran terhadap aliran agama penguasa yaitu aliran Monofisik, apalagi terhadap penganut agama lain. Semantara penganut terbesar penduduk Andalusia adalah agama Yahudi, mereka dipaksa diadaptis menurut agama Kristen. Rakyat dibagi kepada kelas-kelas sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak.5


Perkembangan Islam dan keberadaan Daulah Umayyah di Andalusia

Masa panjang yang dilalui Umat di Andalusia itu dapat dibagi menjadi 6 priode menurut Badri Yatim yaitu:

v Periode Pertama (711-755 M)

Pada pemerintah ini, Andalusia berada dibawah pemerintah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada priode ini stabilitas negeri Andalusia belum mencapai sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Ganggaun yang datang dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan akibat etnis golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Andalusia dalam waktu yang amat singkat. Sementara gangguan yang datang dari luar yaitu dari sisa-sisa musuh Islam Andalusia yang bertempat tinggal di pegunungan yang tidak pernah tunduk kepada pemerintah Islam gerakan ini Islam memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Andalusia, maka dalam priode ini Islam belum memasuki kegiatan pembangunan dibidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman ad-Dakhil ke Andalusia 138 H/755 M.

v Periode kedua (755-912 M)

Periode ini, Andalusia diperoleh oleh Amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk pada pemarintahan Islam, yang ketika itu, dipegang khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I diberi gelar ad-Dakhil (yang masuk ke Andalusia). Dia adalah keturunan Bani Umayyah. Penguasa-penguasa Andalusia pada periode ini adalah Abdul Rahman ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam II, Abdul Rahman al-Ausat, Muhammad Ibn Abdul Rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad. Pada priode ini Andalusia sudah mulai maju baik bidang politik maupun dalam bidang peradaban, dengan mendirikan mesjid-mesjid dan sekolah-sekolah, Hisyam dikenal berjasa menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran, sedangkan Abdul Rahman Al-Ausat dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.

v Periode ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman ke III yang bergelar “an-nasir” sampai munculnya raja-raja kelompok yang dikenal sebagai Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan khalifah ini berdasarkan atas berita bahwa khalifah al-Muqtadir daulah Bani Abbas di Bagdad meninggal dunia. Menurutnya keadaan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang selam 150 tahun lebih dan dipakai lagi mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini terdiri dari tiga orang yaitu: Abdurrahman an-Nasir (912-961 M) Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).

Pada periode ini umat Islam Andalusia mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan Daulah Bani Abbasiyah di Bagdad. Abdurrahman an-Nasir mendirikan Universitas Cardova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang Kolektor buku dan pendiri pustaka. Selanjutnya Hisyam naik tahta dalam umur 11 tahun yang merupakan awal cikal bakal hancurnya khalifah Bani Umayyah di Andalusia. Dan hancurnya pada Tahun 1009 M. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cardova menghapuskan jabatan khalifah, saat itu Andalusia sudah terbagi kepada banyak sekali negara kecil.


v Priode keempat (1013-1086 M)

Pada priode ini, Andalusia terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau al-Mulukut-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cardova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar adalah Abbasiyah di Seville. Pada periode ini Umat Islam kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya kalau terjadi perang sausara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif melakukan penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini.

v Periode kelima (1086-1248 M)

Pada periode ini Andalusia Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominant, yaitu kekuasaan DaulahMurabbitun (1086-1235 M). DaulahMurabbitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn di Afrika Utara. Ia datang ke Andalusia karena di undang oleh penguasa Islam di Andalusia. Namun kekuatan Murabbitun berakhir dan diganti oleh DaulahMuwahhidun yang didirikan oleh Muhammad ibn Tumart. Dari dinasti inilah kota-kota penting di Andalusia dapat direbut kembali seperti: Cardova, Granada, Almeria, Namun Kristen tetap terus mengadakan penyerangan yang akhirnya Muwahhidun kalah dan kembali Kristen menguasai pemerintahan sehingga tahun 1238 M, Cardova mereka kuasai dan tahun 1248 Seville. Akhirnya hanya Granada yang masih dikuasai oleh Islam.

v Periode Keenam

Periode ini Islam hanya berkuasa di Granada di bawah pemerintahan Bani Ahmar. Pada pemerintahannya peradaban Islam mengalami kemajuan kembali. Namun pemerintahannya secara politik hanya menguasai wilayah yang kecil. Kekuatan inipun berkhir karena adanya perselisihan orang istana dalam merebut kekuasaan.

Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia

Dalam masa lebih tujuh abad kekuasaan Islam di Andalusia, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa ke Eropa dan dunia lainnya, diantara kemajuan-kemajuan yang diraih oleh dinasti Umayyah di Andalusia sebagai prestasi gemilangnya adalah:
Kemajuan Intelektual

Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqallibah (pendudduk antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi Kristen yang berbudaya Arab yang masi menantang kehadiran Islam. Semua komunis ini, kecuali yang terkhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Andalusia.5 Kemajuan-kemajuan intelektual ini dapat dilihat diberbagai bidang, antara lain:

Bidang Filsafat

Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang kelima, yaitu: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).

Tokoh utama dalam filsafat Arab-Andalusia adalah Abu Bakar Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakar ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafat yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.

Bagian akhir abad ke-12 M, munculnya seorang pengikut Aristoteles yang dikenal sebagai komentator fikiran-fikirannya, dia adalah Ibn Rusyd (averroes), hidup antara 1126-1198) M, karena itu pula dia dijuluki sebagai Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skolastik Kristen dan fikiran-fikiran sarjana Eropa pada abad pertengahan.

Bidang Sains

Dalam bidang ini bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan seperti Abbas ibn Frnas termasyur dalam ilmu kmia dan astronomi orang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu, ibrahim ibn Naqqas dalam bidang astronomi dapat menentukan kapan terjadinya gerhana matahari dan berapa lamanya, ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Abbas dari cardova ahli dalam bidang obat-obatan dan banyak lagi tokoh-tokoh yang tak disebutkan namun sangat besar

jasanya dalam perkembangan dan pencerahan ilmu pengetahuan pada masa itu.6


Bidang Fiqh

Dalam bidang fiqh, Andalusia dikenal penganut Mazhab Maliki. Yang memperkenalkan Mazhab ini adalah Zaid ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bkar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi, dan ibn Hazm yang terkenal.

Bidang Musik dan Kesenian

Tokohnya adalah al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Zaryab yang selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya, yang terkenal sebagai pengubah lagu.

Bidang Bahasa dan Sastra

Karya-karya sastra banyak bermunculan, seperti, al-‘Iqad al-Farid karya ibn Abd Rabbih, az-Zakhirah fi Mahasin ahl al-jazirah oleh Bassam, kitab al-Qalaid buah karya al-Fah ibn Khaqan, dan masih banyak yang lain yang tidak tersebut disini, tentunya juga memiliki karya yang besar dan membawa pengaruhnya.

Kemegahan pembangunan Fisik

Aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian besar umat Islam sangat banyak seperti dalam perdagangan. Jalan-jalan dan pasar dibangun seindah mungkin. Disamping itu pula bidang pertanian juga tidak ketinggalan dengan memperkenalkan sistem irigasi, kemudian memperkenalkan pertanian padi, jeruk, kebun dan taman-taman.7

Kehancuran Daulah Bani Umayyah di Andalusia

Meskipun Islam di wilayah Andalusia pernah mengalami kejayaan yang bertahan sekian lama, dan Andalusia menempatkan posisi penting dalam catatan sejarah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang berkembang pesat, namun demikian pada akhirnya daulah ini juga mengalami kemunduran yang ditandai dengan kehancurannya. Banyak faktor yang menyebabkan daullah ini mengalami kehancuran, diantaranya adalah:


Komplik Islam dengan Militer

Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna, mereka diberi kebebasan menjalankan ajaran agama yang pada akhirnya mereka mengadakan penyerangan balik terhadap Islam, para penguasa sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen, dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adapt, hal seperti ini menyebabkan kehidupan umat Islam diAndalusia tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Kristen sehingga pada abad ke-11 M, umat Kristen memperoleh kemajuan pesat sedangkan umat Islam sedang mengalami kemunduran.8


Tidak adanya Ideologi Pemersatu

Sistem plitik yang dijalankan oleh Bani Umayyah di Damaskus tetap berkembang di Andalusia, yaitu orang-orang Arab tidak pernah menerima orang pribumi, akibatnya kelompok-kelompok etnis non muslim sering menggerogoti dan merusak perdamaian, hal ini mendatangkan dampak besar terhadap sosial ekonomi negeri, yang menunjukkan tidak adanya ideologo yang dapat memberikan makna persatuan. Disampingnya kurangnya figure yang dapat menjadikan personifikasi ideology.

Kesulitan Ekonomi

Perkembangan dan kemajuan yang dirasakan membuat para penguasa selalu sibuk membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius sehingga sector ekonomi terabaikan, hal ini mengakibatkan timbulnya kesulitan ekonomi yang sangat memberatkan terhadap pengaruh kondisi politik dan militer.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah UMAYYAH II DI ANDALUSIA, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com

Daftar Pustaka dan Footnote




Bibliografi

Ali, K. Sejarah Islam (Tarikh pra Modern), cet. II. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.



Brocleman, Carl. History of the Islamic People. London: Rotledge & Kegen Paul, 1980.



Fakhri, Majdid, Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Jaya, 1996.

Ismail, Faisal. Paradigma Kebudayaan Islam, cet. 1. Yokyakarta: Titian Ilahi Press, 1996.



Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Pres, 2001.



Spuler, Bertold, The Muslem Word Historical Surveyril. Leiden: 1960.



Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husana, 1983.



Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Persada, 1993.



Hasan Ibrahim Hasan. Tarikh al-Islam al-Sitasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’l. Kairo: Maktabah al-Nahdhah, tt.

Bosworth. Dinasti-Dinasti Islam. Bandung: Penerbit Mizan, 1993

Ali, Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Sayyid Al-wakil. Wajah Dunia Islam dari Dinasti Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern. Jakarta,1998

Tohir Muhammad. Sejarah Islam dari Andalusia sampai Indus. Jakarta: Pt. Dunia Pustaka Jaya, 1981.

Karya Soekama. Ensiklopedi Mini Sejarah & Kebudayaan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996

Ibrahim Lubis

Penulis:

Judul Makalah: Umayyah 2 Di Andalusia
Semoga Makalah ini memberi manfaat bagi anda, tidak ada maksud apa-apa selain keikhlasan hati untuk membantu anda semua. Jika terdapat kata atau tulisan yang salah, mohon berikan kritik dan saran yang membangun. Jika anda mengcopy dan meletakkannya di blog, sertakan link dibawah ini sebagai sumbernya :

0 komentar:

Post a Comment

Berhubung komentar Spam sangat berbahaya, maka saya berharap Sobat untuk tidak berkomentar spam. Jika saya menemukan komentar Sobat mengandung spam atau memasukkan link aktif di kolom komentar, saya akan menghapusnya. terima kasih